Lompat ke isi

GANGGUAN TIDUR

Juli 11, 2009

Salah satu keluhan yang sering terdengar dalam praktek kedokteran ialah insomnia atau kesukaran tidur. Tidur ditandai oleh menurunnya kesadaran secara reversibel, biasanya disertai posisi berbaring dan tak bergerak. Aserinsky dan Kleitmen (1953) di University of Chicago menemukan bahwa biasanya pada orang yang sedang tidur, bola matanya bergerak perlahan-lahan, tetapi kadang-kadang bergerak dengan cepat pula.

Gangguan tidur dapat berupa insomnia (sukar tidur, biasanya karena sebab psikologik); berjalan sewaktu tidur (somnambulisme); mimpi buruk (nightmare) atau pavor nocturnus, sering pada anak-anak dan biasanya hilang dengan sendirinya; dan narkolepsi (serangan tidur bersamaan dengan kataplexi (kaku, tidak dapat bergerak), kelumpuhan tidur atau halusinasi hipnagogik).

deep-sleepInsomnia : biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya, seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia. Untuk insomnia yang ringan, tidak perlu diberi obat, tetapi cukup dengan penjaminan kembali bahwa dengan sendirinya dapat kembali normal. Insomnia yang berat biasanya merupakan gejala gangguan yang lain. Artinya, ia timbul karena sebelumnya individu mengalami stres, kelemahan badan, tremor (gemetaran karena kecemasan yang sangat), berkurangnya konsentrasi dan sebagainya. singkatnya, insomnia biasanya timbul sebagai salah satu tanda bahwa seseorang telah mengalami stres, depresi, tremor dan sebagainya.

Insomnia pada pagi-pagi sekali (penderita yang dapat tidur seperti biasa, namun terbangun pukul 02.00 atau 03.00, lalu tidak dapat tidur lagi) biasanya merupakan gejala depresi endogenik (keturunan). Sedangkan kesukaran untuk memulai tidur biasanya terdapat pada individu yang mengalami depresi atau cemas dan individu-individu yang takut tertidur karena takut akan mengalami mimpi-mimpi buruk.Gejala klinik insomnia : tidak mampu tertidur atau sukar untuk tidur, termasuk bangun pagi-pagi buta. Sebagai gangguan tidur primer tidak terdapat gangguan fisik atau psikologik.

Pengobatan yang dapat dilakukan:

Adalah dengan membuat pasien merasa tenang dan mengobati gangguan yang mendasarinya. Misalnya, yang mendasari insomnia pasien adalah cemas tentang suatu hal, maka harus dicari tahu penyebab cemasnya hingga dilakukan intervensi untuk mengatasi cemas pasien. Bila tidak terdapat gangguan yang mendasarinya, maka dilakukan psikoterapi suportif dibantu dengan obat tidur (bila perlu) untuk mengembalikan ritme tidur penderita. Perlu dikatakan kepada pasien bahwa ia tidak perlu “berusaha” untuk tidur karena semakin pasien berusaha untuk tidur, maka semakin tertuju perhatiannya pada keadaannya yang demikian yang tentu saja semakin menghambat ia tertidur.

Pavor nocturnus : terdapat pada anak-anak kecil. yang terjadi adalah pada saat tidur, anak tiba-tiba duduk dan berteriak ketakutan karena ia mengalami mimpi yang menyeramkan. Biasanya hal tersebut terjadi singkat dan anak kembali tidur. Esok harinya, ia sering tidak ingat dengan kejadian tersebut. kadang-kadang anak takut untuk tidur karena peristiwa-peristiwa tersebut.

Mimpi buruk : lebih ringan dari pavor nocturnus dan terjadi sewaktu tidur REM (tidur dengan gerak bola mata cepat) pada anak-anak dan orang dewasa. Akibat mimpi-mipi tersebut, individu menjadi sering terbangun sehingga mengakibatkan insomnia.

Hipersomnia : sering merupakan gejala suatu nerosa (depresi atau cemas) yang berat. Biasanya penderita secara sengaja menarik diri untuk tidur agar tidak menghadapi pengalaman-pengalaman yang menyakitkan dalam keadaan sadar. Akibatnya, seringkali kebiasaan tidur menjadi terbalik, di mana penderita tidur nyenyak sepanjang pagi, perlahan-lahan terbangun pada sore hari dan tidak mengantuk di saat orang lain mengantuk dan tidur.

Somnolensi : adalah rasa mengantuk yang abnormal. Biasanya terjadi pada keadaan keracunan, peradangan otak, tumor otak yang menekan dasar ventrikel ke-3 dan pada gangguan metabolisme.

Oleh karena itu, kenalilah keadaan tidur anda. Jika anda mengalami salah satu dari gangguan tidur tersebut, segeralah berkonsultasi ke psikolog, psikiater ataupun dokter kepercayaan anda.

Daftar Pustaka:

Maramis, W.F. 1994. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press

Chaplin, J.P. 2008. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

By: OuWWeeY

From → Psychology

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.